Beranda » Bahan Industri » Apakah Stainless Steel Bisa Berkarat? Ini Fakta dan Solusinya!

Apakah Stainless Steel Bisa Berkarat? Ini Fakta dan Solusinya!

Cukup banyak orang yang bertanya soal apakah stainless steel bisa berkarat saat berkonsultasi produk pada kami. Pertanyaan ini wajar, karena desas-desus tentang kemampuan stainless steel menahan korosi sudah lama beredar. Di bawah kami akan bahas jawaban pertanyaan tadi, termasuk penyebab, sekaligus trik mencegah karatan di material stainless steel.

Apakah Bahan Stainless Steel Mudah Berkarat?

Apakah Stainless Steel Bisa Berkarat

Bahan stainless steel bisa saja berkarat, meskipun tidak semudah baja biasa. Sebab, stainless steel adalah baja yang mengandung minimal 10,5% kromium. Unsur kromium inilah yang bereaksi dengan oksigen di udara dan membentuk lapisan pelindung tipis bernama kromium oksida.

Sifat lapisannya pasif dan berguna sebagai perisai yang melindungi permukaan logam dari proses oksidasi. Selama lapisan tersebut tetap utuh, maka stainless steel akan tahan terhadap korosi. Tapi, bukan berarti material ini sepenuhnya antikarat, ya.

Kenapa Stainless Steel Bisa Berkarat?

Kenapa stainless steel bisa berkarat

Beberapa hal yang jadi penyebab stainless steel berkarat meskipun sudah ada lapisan pelindungnya adalah:

1. Rusaknya Lapisan Kromium

Goresan, abrasi, atau gesekan keras dapat merusak lapisan kromium oksida di permukaan stainless steel

Saat lapisan ini terbuka, otomatis logam di bawahnya akan langsung bereaksi dengan oksigen dan kelembapan. Hal inilah yang akhirnya membuat karat mulai muncul sedikit demi sedikit.

2. Faktor Lingkungan

Stainless steel yang terpapar lingkungan berkelembapan tinggi, panas ekstrem, air asin, atau uap air yang menempel terlalu lama juga berisiko lebih cepat mengalami korosi.  Sebab, semua kondisi ini dapat mengganggu kromium pada stainless steel.

3. Paparan Bahan Kimia Agresif

Lapisan pelindung stainless steel akan lebih cepat rusak jika terpapar pembersih berbasis klorin, pemutih, atau asam yang kuat. Jadi, meskipun tujuannya untuk membersihkan, tapi ketika pemakaiannya berlebihan, efeknya malah negatif.

4. Kontaminasi dengan Logam Lain

Partikel besi atau karbon dari alat kerja, proses pemotongan, atau lingkungan bengkel dapat menempel di permukaan stainless steel. Kontaminasi ini sering menjadi penyebab awal korosi lokal, yang kemudian menyebar ke area lain.  

Cara Mencegah Korosi/Karat pada Stainless Steel

Penyebab stainless steel berkarat

Agar produk stainless steel tetap awet dan berfungsi optimal, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda terapkan sejak awal penggunaan material ini, seperti:

  • Pilih grade yang tepat: Gunakan stainless steel grade 304 atau 316 untuk lingkungan basah, lembap, atau korosif, sehingga daya tahannya lebih optimal.
  • Bersihkan dan keringkan secara rutin: Gunakan sabun ringan, air hangat, dan kain lembut untuk menjaga permukaan stainless steel tetap bersih tanpa merusak lapisan pelindung.
  • Hindari bahan kimia keras dan abrasif: Jangan menggunakan pemutih, pembersih klorin, atau steel wool yang dapat meninggalkan goresan halus, sehingga memicu karat.
  • Perhatikan sirkulasi udara dan drainase: Pastikan tidak ada kelembapan yang terjebak di celah atau area tertutup di peralatan stainless steel dalam waktu lama.
  • Lakukan tindakan cepat jika muncul karat: Segera bersihkan noda di permukaan stainless steel dengan pembersih khusus agar karat tidak menyebar dan merusak struktur material.

Karena stainless steel tetap berisiko berkarat jika digunakan di lingkungan atau aplikasi yang kurang tepat, pemilihan material dan metode perawatannya perlu dipertimbangkan sejak awal.

Sebagai perusahaan manufaktur, PT. SINAR SRIKANDI ESHALEKTRIKA terbiasa menangani penggunaan stainless steel dengan berbagai karakter kebutuhan dan kondisi lingkungan. 

Pendekatan teknis ini membantu memastikan material yang digunakan lebih tahan korosi dan punya umur pakai panjang. Cek di sini untuk informasi lebih lanjut mengenai profil dan pengalaman manufaktur stainless steel PT. SINAR SRIKANDI ESHALEKTRIKA.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less